Thursday, August 28, 2014

Ketika Tuhan Kembali Menyapa

Mak jebreett! Mak jleebb! Mak ndhuull....!
Kira-kira begitu nada menggelegar berskala delapan oktaf yang terasa di dalam benak seorang anak muda satu itu. Sudah sekian lama ia tidak dikejutkan dengan nada-nada bledheg itu. Lebih dari seputaran kalender mungkin. Selama kurun waktu jeda itu, paling banter ia hanya mendengar setengahnya, itupun tidak secara langsung lewat telinga kepalanya sendiri. Pastinya, seseorang akan merasa ditohok ketika mendengar nada delapan oktaf tersebut. Angap saja ini adalah sebuah ilusi seorang anak muda dari sebuah klub atau perkumpulan yang sedang menapaki tangga menuju puncak gemilang cahaya berkilau berseri.
Selama bersafari sekitar enam pekan di suatu sudut kota dan pojok beberapa kota lain, ada banyak hal dan peristiwa yang kasat dan tak kasat mata yang sebenarnya tidak asing bagi anak muda tersebut. Akan tetapi, entah karena angin, metamorfosa, perubahan di lingkungan sekitar, cara kubu lain memandang, semakin majemuknya cara ia berpikir, ataukah dia yang memang sedang tidak "in", kurang jelas yang mana gejalanya. Bisa jadi, itu adalah kombinasi asbabul wurud dari kesemuanya. Entahlah. Hari ini, ia makin terenyuh betapa memekakannya dentuman lantunan tersebut. Dengan kuping terbuka, ia tersentak ketika hanya mendengar lagu yang hanya terdiri dari nada delapan oktaf tanpa selingan balok nada yang lain. Bisakah dinikmati? Tentu saja tidak. Sekali lagi, tidak.
Dengan tekad yang kuat, ia menyadari tentang perlunya aransemen dengan interval nada yang lain agar terjadi harmoni di dalam lantunannya. Di satu sisi, ia nampak memiliki beban personal yang bebarengan. Selain itu, ia tidak hanya dititahi menjadi seorang komposer dengan menciptkan satu lagu, tetapi beberapa lagu dalam momen yang bersamaan. Untungnya, di sisi yang lain ia punya sumber daya, musisi, lirik, dan instrumen yang siap diramu untuk ditampilkan dalam suatu konser yang spektakuler yang tidak pernah diketahui kapan naik panggungnya. Hebohnya, di saat memoles lagu – lagu gubahannya, produsernya juga memberikannya mandat agar ia juga berperan sebagai seorang promotor. Ya promotor, ya marketer, ya sales, ya makelar, dan sejenisnya. Menariknya, ia tidak putus asa. Ia justru menyebut seluruh rangkaian peristiwa tersebut sebagai sebuah sapaan kembali dari Tuhan. Tambahan pula, ia malah memiliki optimisme dan keyakinan yang begitu tinggi di masa yang akan datang untuk menampilkan show-show yang akan memberikan kontribusi positif dalam menghibur dan menggerakkan para penonton dan fans di sekitarnya di seluruh penjuru nusantara dan jagad raya. Mari bantu kontribusinya dan tunggu tanggal mainnya! Caraaku
http://caraaku-caraaku.blogspot.com/