Mak jebreett! Mak jleebb! Mak ndhuull....!
Kira-kira begitu nada menggelegar berskala delapan oktaf yang
terasa di dalam benak seorang anak muda satu itu. Sudah sekian lama ia tidak
dikejutkan dengan nada-nada bledheg
itu. Lebih dari seputaran kalender mungkin. Selama kurun waktu jeda itu, paling
banter ia hanya mendengar setengahnya, itupun tidak secara langsung lewat
telinga kepalanya sendiri. Pastinya, seseorang akan merasa ditohok ketika
mendengar nada delapan oktaf tersebut. Angap saja ini adalah sebuah ilusi seorang
anak muda dari sebuah klub atau perkumpulan yang sedang menapaki tangga menuju
puncak gemilang cahaya berkilau berseri.
Selama bersafari sekitar enam pekan di suatu sudut kota dan pojok
beberapa kota lain, ada banyak hal dan peristiwa yang kasat dan tak kasat mata
yang sebenarnya tidak asing bagi anak muda tersebut. Akan tetapi, entah karena
angin, metamorfosa, perubahan di lingkungan sekitar, cara kubu lain memandang, semakin
majemuknya cara ia berpikir, ataukah dia yang memang sedang tidak "in", kurang
jelas yang mana gejalanya. Bisa jadi, itu adalah kombinasi asbabul wurud dari
kesemuanya. Entahlah. Hari ini, ia makin terenyuh betapa memekakannya dentuman
lantunan tersebut. Dengan kuping terbuka, ia tersentak ketika hanya mendengar
lagu yang hanya terdiri dari nada delapan oktaf tanpa selingan balok nada yang
lain. Bisakah dinikmati? Tentu saja tidak. Sekali lagi, tidak.
Dengan tekad yang kuat, ia menyadari tentang perlunya aransemen
dengan interval nada yang lain agar terjadi harmoni di dalam lantunannya. Di
satu sisi, ia nampak memiliki beban personal yang bebarengan. Selain itu, ia
tidak hanya dititahi menjadi seorang komposer dengan menciptkan satu lagu,
tetapi beberapa lagu dalam momen yang bersamaan. Untungnya, di sisi yang lain
ia punya sumber daya, musisi, lirik, dan instrumen yang siap diramu untuk
ditampilkan dalam suatu konser yang spektakuler yang tidak pernah diketahui
kapan naik panggungnya. Hebohnya, di saat memoles lagu – lagu gubahannya, produsernya
juga memberikannya mandat agar ia juga berperan sebagai seorang promotor. Ya promotor,
ya marketer, ya sales, ya makelar, dan sejenisnya. Menariknya, ia tidak putus
asa. Ia justru menyebut seluruh rangkaian peristiwa tersebut sebagai sebuah
sapaan kembali dari Tuhan. Tambahan pula, ia malah memiliki optimisme dan
keyakinan yang begitu tinggi di masa yang akan datang untuk menampilkan show-show yang akan memberikan
kontribusi positif dalam menghibur dan menggerakkan para penonton dan fans di
sekitarnya di seluruh penjuru nusantara dan jagad raya. Mari bantu
kontribusinya dan tunggu tanggal mainnya! – Caraaku
http://caraaku-caraaku.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment