CARAAKU-CARAAKU.BLOGSPOT.COM:: Well,
jika jalan – jalan di jalanan Indonesia, maka orang akan menemui banyak hal
yang menarik perhatian. Tidak jarang jika masyarakat selalu menampilkan hal-hal
unik yang secara langsung berimbas kepada masyarakat lain tanpa sering kita
sadari.
Simaklah ketika kita naik kendaraan
dan memasuki jalanan dan atau area tertentu! Begitu masuk lokasi tersebut, selain
terpana oleh banyaknya baliho, poster, spanduk, dan sejenisnya, mata kita biasanya
langsung tertuju pada rambu –rambu lalu lintas yang tidak dimiliki oleh Dinas
Perhubungan ataupun diatur oleh undang-undang maupun peraturan daerah. Ga
percaya?
Pertama, saat ujian SIM baik A, B, C
sampai Z, pernahkah ada pertanyaan ini, ‘Jalan pelan-pelan banyak anak-anak’
merupakan tanda untuk apa?
Kedua, rambu yang ini mungkin
menjadi peraturan non-verbal dari para satpam penjaga komplek, ‘Pemulung
dilarang masuk’. Nah, jika salah satu dari kalian pernah dilarang masuk, apakah
Anda termasuk kategori pelanggar rambu tersebut? Hehehe.
Ketiga, ‘Awas, polisi tidur!’ Aduh,
dik….. Kok ya masih sempat-sempatnya polisi tidur di jalanan. Eits, rupanya ini
adalah jebakan Batman ala Nusantara. Apalagi jika tiap 5 meter ada. Bump bump bump…. Mungkin masyarakat ingat yang berikut ini kali ya, “Bukankah
Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai
pasak?” (Q.S. An-Naba’: 6-7)
Keempat, pohon pisang sebagai rambu
jalan berlubang. Pernah lihat ini? Saya pikir ini cuma ada di pedesaan yang
masih ditumbuhi banyak pohon pisang. Hanya pemakan pisanglah yang
memahaminya.hihihi…
Kelima, barel minyak atau tong
ksosong sebagai tanda pengalihan arah atau mobil dilarang masuk. Ini terjadi ketika
di suatu lokasi ada kejadian khusus, seperti pernikahan, sunatan, kumpulan RT,
pesta warga, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Mari, bijaklah menggunakan jalan
raya, jalan tikus, maupun jalan buntu di tengah kondisi produksi kendaraan yang
makin meroket sampai roket itu sendiri dibilang membumi. Intinya, di mana ada
kemauan, di situ ada jalan. Kita tidak perlu merenungkan ungkapan banyak jalan
menuju Roma, emang mau ngapain ke Roma? Lebih baik kita berlakukan saja show must go on. Jadi, tetap jalan –
jalan aja ya….
No comments:
Post a Comment